• July 23, 2024
Gareth Southgate

Gareth Southgate Akui Inggris Banyak PR Usai Ditahan Imbang Denmark

Pelatih tim nasional Inggris Gareth Southgate mengaku timnya memiliki banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan usai ditahan imbang Denmark 1-1 pada lanjutan laga Grup C Piala Eropa 2024, Kamis (20/6) malam WIB.

Inggris berhasil unggul lebih dulu lewat gol kapten mereka, Harry Kane, pada menit ke-18. Namun seperti di laga sebelumnya saat menang tipis 1-0 atas Serbia, Inggris sulit untuk menambah keunggulan, juga semakin mudah ditekan lawan.

Situasi serupa terjadi ketika Denmark berhasil menyerang dan akhirnya menyamakan kedudukan pada menit ke-34 lewat gol cantik Morten Hjulmand.

Setelah dua laga di babak grup, Inggris masih memimpin klasemen dengan empat angka. Pada laga terakhir the Three Lions akan menghadapi Slovenia.

Southgate sendiri kecewa dan mengaku terdapat beberapa kekurangan dalam timnya dari segi teknik dan taktik yang berujung pada hasil mengecewakan ini.

“Jelas bukan apa yang kami harapkan,” kata Southgate. “Saat ini kami tidak menggunakan bola dengan cukup baik dan kami harus menerima jika Anda melakukan itu, Anda akan menderita pada saat-saat seperti yang kami alami malam ini.”

“Kami tahu ada level lain yang harus kami capai. Ada banyak sekali pekerjaan.”

“Itu terbukti dari dua penampilan yang kami berikan dan kami harus tampil rapat. Kami memahami orang-orang akan kecewa dengan penampilan kami dan memang demikian dan kami harus menjadikannya lebih baik.”

Baca juga:

Dalam dua partai pertama pada turnamen yang berlangsung di Jerman, skenario serupa terjadi ketika intensitas permainan Inggris menurun setelah berhasil unggul. Situasi ini membuat Denmark mampu mengontrol permainan, menekan, dan akhirnya menyamakan kedudukan.

Namun Southgate membantah dirinya memberikan instruksi agar turun bertahan usai timnya unggul. “Kami menghadapi tim-tim yang cukup lancar dalam formasi tiga bek dan tidak mudah untuk memberi tekanan pada mereka, tapi kami pastinya harus tampil lebih baik dari yang kami lakukan di dua pertandingan ini,” lanjut pelatih 53 tahun ini.

“Itu adalah bagian dari masalahnya, namun tidak menguasai bola juga menjadi bagian dari masalah yang besar.”

“Kami tahu orang-orang akan kecewa dengan penampilan kami. Saat ini kami tidak menekan dengan intensitas yang kami perlukan dan itu berarti kami harus bermain lebih dalam.”

Kane juga mengakui turunnya intensitas serangan menjadi masalah yang harus diselesaikan Inggris pada laga selanjutnya.

“Saya pikir itu adalah sesuatu yang harus kami perbaiki,” kata penyerang Bayern Munich ini. “Saya pikir kami memulai pertandingan dengan baik tetapi ketika tim-tim bertahan semakin dalam, kami tidak yakin bagaimana memberikan tekanan dan siapa yang akan maju.”

“Di babak kedua kami mencoba melakukan sedikit perubahan tetapi itu sulit.”

“Kredit untuk Denmark, mereka memberi kami beberapa ancaman. Secara keseluruhan kami harus melihat ke belakang dan melihat apa yang bisa kami tingkatkan.”

Baca juga:

Kane yang tampil gemilang di level klub dengan mencetak 44 gol dan 12 asis dari 45 laga musim lalu, mengakui bermain di bawah level yang semestinya, begitu juga dengan rekan setimnya.

“Saya pikir kami kesulitan baik dengan atau tanpa bola,” tambah Kane.

“Saya pikir tekanan di kedua pertandingan belum tepat dan penguasaan bola belum cukup baik. Semua pemain sedikit turun di bawah level mereka. Di luar sana sulit, tapi kami tenang. Itu bukan pertandingan terhebat tapi kami berhasil lolos dengan satu poin.”

Southgate mencoba mengubah jalannya pertandingan dengan memasukkan Conor Gallagher menggantikan Trent Alexander-Arnold pada awal babak kedua. Kemudian ia membuat tiga pergantian sekaligus dengan mengeluarkan tiga pemain depannya, Kane, Bukayo Saka, dan Phil Foden, memasukkan Jarrod Bowen, Eberechi Eze, dan Ollie Watkins.

Soal pergantian tiga pemain depannya, Southgate mengatakan timnya membutuhkan energi di 20 menit tersisa.

“Kami membutuhkan energi. Kami menjalani dua pertandingan dalam waktu singkat,” jelas Southgate.

“Kami membutuhkan pemain yang segar, kami membutuhkan energi untuk menekan pada tahap permainan itu. Saya pikir Harry hanya bermain 90 menit dalam sebulan, jadi itulah keputusan yang kami ambil.”

Alexander-Arnold yang kerap bermain sebagai bek kanan bersama Liverpool, kembali menjadi gelandang tengah bertandem dengan Declan Rice. Dalam dua laga itu juga pemain 25 tahun ini digantikan oleh Gallagher.

Southgate sendiri mengaku memainkan Alexander-Arnold sebagai gelandang tengah sebagai sebuah eksperimen. Hal ini karena ia mengaku tidak memiliki pengganti Kalvin Phillips, pemain andalan Southgate saat mencapai partai final pada Piala Eropa 2020 lalu.

Namun sejak itu Phillips memiliki penurunan performa setelah tidak memiliki waktu bermain yang cukup setelah didatangkan ke Manchester City. Peminjaman ke West Ham United juga tidak memperbaiki keadaannya. Pemain 28 tahun ini pun tidak mendapatkan panggilan ke skuad Piala Eropa 2024.

“Dia memiliki beberapa momen di mana dia memberikan apa yang kami pikir akan dia lakukan,” kata Southgate soal Alexander-Arnold.

“Kami tahu ini adalah eksperimen dan kami tahu bahwa kami tidak memiliki pengganti alami untuk Kalvin Phillips. Namun kami mencoba beberapa hal berbeda dan saat ini kami tidak mengalir seperti yang kami inginkan, itu sudah pasti.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *